Empat tahun yang lalu, sewaktu aku masih kelas 2 SMP, aku terbangun
karena sebuah mimpi. Bukan mimpi buruk, bahkan di mimpi itu tidak terdapat
unsur yang berhubungan dengan kata buruk sedikitpun. Aku merasa aneh, tapi
mimpi itu sangat nyata. Di mimpi itu, ada seorang laki-laki setengah baya
menghampiriku yang sedang duduk di bangku taman. Kemudian dia duduk di
sebelahku.
“Kamu, Far
khan?” tanyanya memulai pembicaraan,
Aku menoleh,
“Iya, Om siapa?” aku balik bertanya dengan
ekspresi penasaran.
“Saya Syarif, Ayah
Firman”
Aku tercengang
mendengar jawaban itu, karena aku tau bahwa Ayah mas Firman sudah meninggal 2
bulan yang lalu. Mas Firman adalah kakak kelasku sewaktu SMP, dia sangat pintar
apalagi di bidang Matematika. Dia sering mengikuti lomba dan juga
memenangkannya. Tak heran kalau semua siswa-siswi terutama guru-guru disana
mengenalnya.
“Ta… tapi…”
“Saya tau
perasaanmu kepada Firman, maka dari itu saya mendatangi kamu.”
“Maksud, Om?” tanyaku bingung.
“Tujuan utama saya
adalah untuk menitipkan Firman kepadamu” jelasnya.
“Menitipkan?”
tanyaku lagi.
“Roni, Ridho,
dan Syem. Mereka adalah anak berandalan di rumah saya, sedangkan Firman
sekarang sering bergaul dengan mereka. Saya khawatir kalau nantinya Firman akan
terpengaruh. Padahal saya menaruh harapan besar terhadapnya.”
“InsyAllah, Om. InsyAllah saya akan melaksanakan amanat Om” jawabku spontan. “Tapi… Om
tau sendiri sifat mas Firman seperti apa, apalagi saya perempuan dan adik
kelasnya. Selain itu saya takut kalau mas Firman tidak mempercayai saya”
lanjutku.
“InsyAllah dia
akan percaya. Iya saya tau, tapi saya yakin kamu bisa melakukannya.”
Hal itulah yang
paling aku ingat. Tapi, apa benar Roni, Ridho, dan Syem itu ada? Untuk
memastikan hal itu, keesokan harinya aku bertanya pada temanku yang tinggal di
sekitar rumah mas Firman.
“Ouwh… tiga
serangkai itu? Semua orang disana kenal dan mereka memang berandalan. Ya, nakal
banget deh pokoknya” jawabnya.
Aku tercengang
dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ternyata mimpi itu benar dan
aku harus berusaha menepati kesanggupanku. Tapi tidak mungkin dengan cara aku
diam seperti ini, tanpa mas Firman tau tentang pesan itu. Sedangkan sebentar
lagi mas Firman akan lulus, setidaknya dia harus tau. Beberapa bulan sudah
berlalu, tapi aku belum menemukan cara untuk menyampaikannya. Aku sangat
enggan, apalagi aku memang sangat tidak dekat dengan mas Firman, kami hanya
sekedar kenal dan cuma terkadang SMS-an. Tapi tidak mungkinkan kalau aku
menyampaikan pesan itu melalui SMS atau telepon? Menurutku dengan cara seperti
itu, kemungkinan besar mas Firman percaya sangat kecil, jadi aku tidak
mengambil cara itu. Sampai pada waktu mas Firman menghadapi ujian praktek untuk
kelulusan, disaat itu aku bertambah bingung. Aku takut kalau tidak bisa menyampaikannya
sebelum mas Firman lulus. Akhirnya kau putuskan untuk membuang rasa malu itu
dan menyampaikannya langsung pada mas Firman.
Hari ini ujian praktek sudah berakhir, tapi aku masih belum
mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Keesokan harinya, aku melihat mas
Firman sedang duduk sendiri di sebelah kelasnya. Tangan kanannya terlihat
memegang buku tebal berwarna biru-merah, sedangkan tasnya masih melekat di
bahunya. Tanpa pikir panjang, perlahan-lahan aku berjalan menghampiri mas
Firman. Kakiku seperti diberi beban 7 ton, tapi aku tetap berusaha untuk
melangkahkannya. Pikiranku benar-benar kacau, jantungku berdetak tak karuan,
tubuhku gemetar, dan seakan-akan sulit untuk bernafas. Memang terdengar lebay,
tapi aku benar-benar mengalami masa perguncangan yang luar biasa saat itu.
Dengan berbekal bismillah, aku beranikan diri untuk berdiri di depannya
sekalipun sangat terlihat bahwa tangan dan kakiku gemetar.
“Mm.. mas, aku
mau bicara penting” ucapku dengan nada agak gemetar.
“Maaf, mau
bicara apa?” tanyanya dengan cuek.
“Ng.. nggaakk,
nggak bisa disini. A… aku mau bicara berdua ma mas”
“Tapi…”
Aku langsung
menarik tangan kiri mas Firman menuju lapangan belakang sekolah. Tentu saja
semua orang yang berada di sekitarnya tercengang melihat hal itu, karena semua
orang itu tau bahwa mas Firman bukan tipe orang yang mudah akrab dengan
perempuan apalagi adik kelasnya. Sebenarnya aku sangat malu, tapi aku tidak
perduli. Yang aku pikirkan waktu itu hanyalah tentang pesan yang harus aku
sampaikan. Sekilas aku melihat jari telunjuk mereka mengarah ke arahku,
sedangkan ekspresi muka mereka terlihat aneh. Mas Firman berusaha melepaskan
diri dari seretanku. Tapi semakin keras dia berusaha, semakin erat pula
genggamanku.
“Hei… malu!!!
Apa-apaan kamu!!!” ucapnya agak sedikit berteriak.
Tapi aku tetap
tidak perduli, aku terus menariknya. Setelah sampai di lapangan, aku melepaskan
mas Firman.
“Aku benar-benar
harus bicara dengan mas” ucapku meyakinkan mas Firman.
“Ok.. ok. Tapi
nggak usah seperti tadi” jawab mas Firman terlihat agak sedikit panik.
Aku menganggukkan
kepala, tanganku benar-benar dingin dan lidahku terasa kaku. Rasanya seberat
batu untuk aku menggerakkannya, tapi aku berusaha untuk bicara sekalipun dengan
nada sedikit terseok-seok. Aku terdiam sebentar dan menarik nafas panjang.
“A… apa benar
mas bergaul dengan Roni, Ridho, dan Syem?” tanyaku sambil memejamkan mata.
“Ke.. kenapa
kamu kenal mereka?” tanyanya heran.
“Ayah mas yang
bilang itu”
“Ayah? Kamu
jangan mengada-ngada! Ayahku sudah meninggal 6 bulan yang lalu” bantahnya
“Tapi itu benar,
mas. Ayah mas datang dalam mimpiku, beliau berkata itu dan menitipkan mas
kepadaku” jelasku.
“Menitipkan?
Ayah tidak kenal kamu. Lagian apa hubungannya aku dengan kamu, sehingga Ayah
mempercayai kamu untuk menjagaku?
“I… itu…” aku
menundukkan kepala dan air mataku menetes.
“Sudahlah,
bicaramu ngawur” ucap mas Firman sambil melangkah meninggalkanku.
“Aku nggak
bohong, mas. Mas harus percaya!!” teriakku.
Tapi mas Firman
tidak perduli, bahkan dia tidak menoleh sedikitpun.
Setelah itu, aku tidak pernah melihat mas Firman lagi. Sepertinya
dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kelas dan mungkin juga karena
dia khawatir kalau aku akan menghampirinya lagi. Sampai pada akhirnya mas
Firman lulus, aku dengar dia bersekolah di SMA terfavorit di kota. Sekalipun mas Firman tidak perduli
dengan perkataanku, tapi aku terus mengawasinya. Melalui temanku yang tinggal
di sekitar rumahnya, aku lebih mudah mencari informasi tentang mas Firman dan
aku pun sudah tau dimana letak rumahnya. Semenjak SMA, sepertinya mas Firman
lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar, belajar dan belajar. Dia
memang jarang di rumah, tapi dalam kegiataan yang menyangkut hal pelajaran dan
agama. Dan yang lebih penting, sekarang mas Firman sudah tidak terlihat bergaul
dengan tiga serangkai itu lagi. Alhamdulillah!!! Tapi aku tidak tau dia menjauh
karena perkataanku atau hanya inisiatifnya sendiri. Siapa yang perduli? Yang
terpenting sekarang mas Firman jauh lebih baik dan dia juga berhasil meraih
medali emas di olimpiade Matematika tingkat dunia. Malam hari setelah berita
itu terdengar, aku bermimpi Ayah mas Firman tersenyum dan mengucapkan terima
kasih kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar