Jumat, 23 September 2011

Pesan Ayah Dari Syurga


Empat tahun yang lalu, sewaktu aku masih kelas 2 SMP, aku terbangun karena sebuah mimpi. Bukan mimpi buruk, bahkan di mimpi itu tidak terdapat unsur yang berhubungan dengan kata buruk sedikitpun. Aku merasa aneh, tapi mimpi itu sangat nyata. Di mimpi itu, ada seorang laki-laki setengah baya menghampiriku yang sedang duduk di bangku taman. Kemudian dia duduk di sebelahku.
“Kamu, Far khan?” tanyanya memulai pembicaraan,
Aku menoleh, “Iya, Om siapa?” aku balik bertanya dengan ekspresi penasaran.
“Saya Syarif, Ayah Firman”
Aku tercengang mendengar jawaban itu, karena aku tau bahwa Ayah mas Firman sudah meninggal 2 bulan yang lalu. Mas Firman adalah kakak kelasku sewaktu SMP, dia sangat pintar apalagi di bidang Matematika. Dia sering mengikuti lomba dan juga memenangkannya. Tak heran kalau semua siswa-siswi terutama guru-guru disana mengenalnya.
“Ta… tapi…”
“Saya tau perasaanmu kepada Firman, maka dari itu saya mendatangi kamu.”
“Maksud, Om?” tanyaku bingung.
“Tujuan utama saya adalah untuk menitipkan Firman kepadamu” jelasnya.
“Menitipkan?” tanyaku lagi.
“Roni, Ridho, dan Syem. Mereka adalah anak berandalan di rumah saya, sedangkan Firman sekarang sering bergaul dengan mereka. Saya khawatir kalau nantinya Firman akan terpengaruh. Padahal saya menaruh harapan besar terhadapnya.”
“InsyAllah, Om. InsyAllah saya akan melaksanakan amanat Om” jawabku spontan. “Tapi… Om tau sendiri sifat mas Firman seperti apa, apalagi saya perempuan dan adik kelasnya. Selain itu saya takut kalau mas Firman tidak mempercayai saya” lanjutku.
“InsyAllah dia akan percaya. Iya saya tau, tapi saya yakin kamu bisa melakukannya.”
Hal itulah yang paling aku ingat. Tapi, apa benar Roni, Ridho, dan Syem itu ada? Untuk memastikan hal itu, keesokan harinya aku bertanya pada temanku yang tinggal di sekitar rumah mas Firman.
“Ouwh… tiga serangkai itu? Semua orang disana kenal dan mereka memang berandalan. Ya, nakal banget deh pokoknya” jawabnya.
Aku tercengang dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ternyata mimpi itu benar dan aku harus berusaha menepati kesanggupanku. Tapi tidak mungkin dengan cara aku diam seperti ini, tanpa mas Firman tau tentang pesan itu. Sedangkan sebentar lagi mas Firman akan lulus, setidaknya dia harus tau. Beberapa bulan sudah berlalu, tapi aku belum menemukan cara untuk menyampaikannya. Aku sangat enggan, apalagi aku memang sangat tidak dekat dengan mas Firman, kami hanya sekedar kenal dan cuma terkadang SMS-an. Tapi tidak mungkinkan kalau aku menyampaikan pesan itu melalui SMS atau telepon? Menurutku dengan cara seperti itu, kemungkinan besar mas Firman percaya sangat kecil, jadi aku tidak mengambil cara itu. Sampai pada waktu mas Firman menghadapi ujian praktek untuk kelulusan, disaat itu aku bertambah bingung. Aku takut kalau tidak bisa menyampaikannya sebelum mas Firman lulus. Akhirnya kau putuskan untuk membuang rasa malu itu dan menyampaikannya langsung pada mas Firman.

Hari ini ujian praktek sudah berakhir, tapi aku masih belum mempunyai keberanian untuk mengatakannya. Keesokan harinya, aku melihat mas Firman sedang duduk sendiri di sebelah kelasnya. Tangan kanannya terlihat memegang buku tebal berwarna biru-merah, sedangkan tasnya masih melekat di bahunya. Tanpa pikir panjang, perlahan-lahan aku berjalan menghampiri mas Firman. Kakiku seperti diberi beban 7 ton, tapi aku tetap berusaha untuk melangkahkannya. Pikiranku benar-benar kacau, jantungku berdetak tak karuan, tubuhku gemetar, dan seakan-akan sulit untuk bernafas. Memang terdengar lebay, tapi aku benar-benar mengalami masa perguncangan yang luar biasa saat itu. Dengan berbekal bismillah, aku beranikan diri untuk berdiri di depannya sekalipun sangat terlihat bahwa tangan dan kakiku gemetar.
“Mm.. mas, aku mau bicara penting” ucapku dengan nada agak gemetar.
“Maaf, mau bicara apa?” tanyanya dengan cuek.
“Ng.. nggaakk, nggak bisa disini. A… aku mau bicara berdua ma mas”
“Tapi…”
Aku langsung menarik tangan kiri mas Firman menuju lapangan belakang sekolah. Tentu saja semua orang yang berada di sekitarnya tercengang melihat hal itu, karena semua orang itu tau bahwa mas Firman bukan tipe orang yang mudah akrab dengan perempuan apalagi adik kelasnya. Sebenarnya aku sangat malu, tapi aku tidak perduli. Yang aku pikirkan waktu itu hanyalah tentang pesan yang harus aku sampaikan. Sekilas aku melihat jari telunjuk mereka mengarah ke arahku, sedangkan ekspresi muka mereka terlihat aneh. Mas Firman berusaha melepaskan diri dari seretanku. Tapi semakin keras dia berusaha, semakin erat pula genggamanku.
“Hei… malu!!! Apa-apaan kamu!!!” ucapnya agak sedikit berteriak.
Tapi aku tetap tidak perduli, aku terus menariknya. Setelah sampai di lapangan, aku melepaskan mas Firman.
“Aku benar-benar harus bicara dengan mas” ucapku meyakinkan mas Firman.
“Ok.. ok. Tapi nggak usah seperti tadi” jawab mas Firman terlihat agak sedikit panik.
Aku menganggukkan kepala, tanganku benar-benar dingin dan lidahku terasa kaku. Rasanya seberat batu untuk aku menggerakkannya, tapi aku berusaha untuk bicara sekalipun dengan nada sedikit terseok-seok. Aku terdiam sebentar dan menarik nafas panjang.
“A… apa benar mas bergaul dengan Roni, Ridho, dan Syem?” tanyaku sambil memejamkan mata.
“Ke.. kenapa kamu kenal mereka?” tanyanya heran.
“Ayah mas yang bilang itu”
“Ayah? Kamu jangan mengada-ngada! Ayahku sudah meninggal 6 bulan yang lalu” bantahnya
“Tapi itu benar, mas. Ayah mas datang dalam mimpiku, beliau berkata itu dan menitipkan mas kepadaku” jelasku.
“Menitipkan? Ayah tidak kenal kamu. Lagian apa hubungannya aku dengan kamu, sehingga Ayah mempercayai kamu untuk menjagaku?
“I… itu…” aku menundukkan kepala dan air mataku menetes.
“Sudahlah, bicaramu ngawur” ucap mas Firman sambil melangkah meninggalkanku.
“Aku nggak bohong, mas. Mas harus percaya!!” teriakku.
Tapi mas Firman tidak perduli, bahkan dia tidak menoleh sedikitpun.

Setelah itu, aku tidak pernah melihat mas Firman lagi. Sepertinya dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kelas dan mungkin juga karena dia khawatir kalau aku akan menghampirinya lagi. Sampai pada akhirnya mas Firman lulus, aku dengar dia bersekolah di SMA terfavorit di kota. Sekalipun mas Firman tidak perduli dengan perkataanku, tapi aku terus mengawasinya. Melalui temanku yang tinggal di sekitar rumahnya, aku lebih mudah mencari informasi tentang mas Firman dan aku pun sudah tau dimana letak rumahnya. Semenjak SMA, sepertinya mas Firman lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar, belajar dan belajar. Dia memang jarang di rumah, tapi dalam kegiataan yang menyangkut hal pelajaran dan agama. Dan yang lebih penting, sekarang mas Firman sudah tidak terlihat bergaul dengan tiga serangkai itu lagi. Alhamdulillah!!! Tapi aku tidak tau dia menjauh karena perkataanku atau hanya inisiatifnya sendiri. Siapa yang perduli? Yang terpenting sekarang mas Firman jauh lebih baik dan dia juga berhasil meraih medali emas di olimpiade Matematika tingkat dunia. Malam hari setelah berita itu terdengar, aku bermimpi Ayah mas Firman tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar